Cetak | Download PDF

MEMAKNAI KI SUNDA PADA GENERASI ALPHA

RICKY WIRASASMITA | Senin, 21 Agustus 2023 | 14:28 WIB

foto

Eksistensi Ki Sunda di Dago Tea House

           Berbicara mengenai jati diri Ki Sunda dengan tujuan untuk mengembalikan ke asalnya, yang dimana jati diri Ki Sunda meliputi makna kehidupan bagi orang sunda. Hal tersebut akan menjadi pembahasan kita, wawasan Ki Sunda dalam berbagai aspek kehidupan. Ruang lingkup Ki Sunda meliputi eksistensi masyarakat sunda pada masanya dalam berbagai aspek untuk keberlanjutan kehidupan masyarakatnya.

           Sobat people, sebelum mengetahui apa itu Ki Sunda pada Generasi Alpha, alangkah baiknya mari kita simak terlebih dulu apa itu Generasi Alpha ! Generasi alpha merupakan mereka yang lahir pada rentang waktu 2010 hingga sekarang. Dimana secara garis besar, mereka yang masuk ke kategori ini adalah mereka yang lahir pada abad 21 sesudah generasi Z. Generasi alpha dan cirinya yaitu belajar melalui IOT (internet of toys). [1] Kecenderungan aktif terhadap perkembangan tren teknologi seperti penggunaan gadget, sehingga mereka dikenal sebagai generasi yang sudah tidak asing dengan teknologi dan internet. Pada umumnya generasi mereka terlahir dari keluarga generasi X dan milenium yang sejak kecil pun sudah mengetahui awal perkembangan teknologi. Generasi alpha mengintegrasikan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi teknologi pada kehidupan sehari-hari ini sangat mempengaruhi karakteristik mereka sebagai individu.

           Secara historis, jati diri Ki Sunda berakar dari masa lampau yang bertitik tolak dari masa kerajaan. Jati diri itu ditunjukkan oleh karakter yang tercermin dalam budaya kekuasaan, budaya kepemimpinan, dan budaya hidup pribadi serta bermasyarakat. Masa kerajaan di Tatar Sunda berlangsung sangat lama, sekitar 13 abad (pertengahan abad ke-4 s.d. akhir abad ke-16). Oleh karena itu, jati diri Ki Sunda mengakar dengan kuat. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah Ki Sunda, jati diri itu cenderung berangsur-angsur luntur, bahkan sekarang banyak orang Sunda yang terkesan kehilangan jati diri.

https://drive.google.com/file/d/1XWMA81n-hL3uuQsjdXmS-dn3JPoUfIzp/view?usp=sharing

Menelusuri Jejak Ki Sunda 

Sumber : Prianganekspres 

           Kondisi tersebut kiranya disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya akibat terjadinya akulturasi pada generasi alpha, sehingga terbentuknya kondisi trans-lokal. Trans-lokal adalah kondisi masyarakat yang terbuka terhadap perubahan dan tantanga zaman serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi secara baik, serta memiliki wawasan yang luas. Sebagaimana pemaparan di atas, yang menunjukkan bahwa generasi Alpha memiliki karakteristik kondisi generasi yang terbuka dimana mereka mengalami akulturasi. Dengan demikian, peran Ki sunda sangat berperan dalam membentuk generasi alpha yang mampu memfilterisasi perkembangan kondisi masyarakat yang terbuka. Keberlanjutan kehidupan masyarakat sunda pada generasi selanjutnya, diperlukan peran aktif dari berbagai pihak yang terkait.

           Alangkah baiknya kita sebagai orang sunda memiliki kesadaran warisan nilai-nilai kehidupan oleh orang sunda terdahulu, karena pada umumnya orang sunda kurang memiliki kesadaran akan identitasnya. Padahal sejarah sunda berisi pengalaman penting manusia, yang maknanya baik untuk dipetik sebagai bahan pelajaran. Mari sobat people kita maknai Ki Sunda !

           Oleh karena itu, pikeun mulangkeun deui (untuk mengembalikan lagi) jati diri Ki Sunda, maka Ki Sunda harus mau belajar dari sejarah, dalam arti belajar dari pengalaman dan memahami makna kejadian atau peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan Ki Sunda khususnya untuk kehidupan rakyat Jawa Barat. Kata “sunda” memiliki arti segala sesuatu yang mengandung kebaikan. Hal itu tercermin dari karakteristik orang sunda yang terdiri atas lima hal, yaitu Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (benar), Singer (mawas diri) dan Pinter (cerdas). Karakteristik ini telah ada sejak zaman kerajaan dan turun-temurun hingga sekarang [2]. Adapun gambaran jati diri Ki Sunda, yang menunjukan pandangan hidup Ki Sunda tentang sikap manusia, sebagai berikut :

- Manusia secara pribadi.

- Hubungan pribadi dengan masyarakat (kehidupan bermasyarakat).

- Sikap manusia yang mengacu pada alam.

- Hubungan manusia dengan Tuhan.

- Sikap manusia dalam mengejar kemajuan.

Contoh ungkapan yang dimaksud di atas, antara lain :

- Pandangan hidup manusia secara pribadi :

a. Kudu hadé gogog hadé tagog (Harus baik budi bahasa dan tingkah laku)

b. Teu busik bulu salambar (Pendirian yang kuat)

- Pandangan hidup mengenai hubungan pribadi dengan masyarakat :

a. Silih asih, silih asah, silih asuh (Saling mengasihi, saling bantu, saling jaga untuk kebaikan.

b. Ulah nyieun pucuk ti girang (Jangan mencari-cari bibit permusuhan)

- Sikap manusia yang mengacu pada alam :

Manuk hiber ku jangjangna, jalma hirup ku akalna (Setiap mahluk memiliki cara untuk melangsungkan kehidupannya)

- Sikap manusia dalam mengejar kemajuan :

Ulah puraga tamba kadenda (Melakukan suatu pekerjaan harus sungguh-sungguh, jangan asal-asalan).

           Setelah sobat people sudah mengetahui mengenai heritage nilai-nilai kehidupan orang sunda, tidak ada salahnya jika kawan-kawan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kebudayaan sunda, kita sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya melestarikan budaya sunda. Pada waktu luang kawan-kawan bisa mengunjungi tempat yang sedang trendy di wilayah Dago Atas yang biasanya para kaula muda suka mengunjungi Dago Tea House, yang tempatnya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Bandung. Tempat tersebut menarik untuk dikunjungi bersama teman-teman pada akhir pekan.

           Dikenal sebagai Dago Theehuis di zaman Belanda, Dago Tea House menawarkan panorama hamparan lembah Kota Bandung terindah, terutama pada malam hari, dimana kamu bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota yang mempesona dari dataran tinggi Dago.

https://drive.google.com/file/d/1yeySjemov7NBSpvzM-cAp3EqW3RHk5UC/view?usp=sharing

Eksistensi Ki Sunda di Dago Tea House

Sumber : Wisata IDN 

Kalian juga dapat sekaligus menikmati berbagai pagelaran kesenian khas sunda yang digelar di Taman Budaya Bandung. Terletak pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, Dago Tea House dibangun dengan tujuan sebagai tempat pusat kebudayaan atau cagar budaya daerah. Jadi kalau kamu bertanya bisa ngapain di Dago Teahouse Residence, kamu bisa bersantai sembari menikmati sajian kuliner dan menyaksikan berbagai pertunjukan dan pagelaran seni serta budaya yang digelar tiap minggunya. Berbagai pertunjukan seni yang rutin digelar di Dago Tea House ini diantaranya tarian khas yang legendaries di Tataran Parahyangan, Jaipongan dan juga Karawitan, Pantun Bubun, Tembang Sunda, Kuda Lumping, Wayang Golek, Angklung, maupun sandiwara. [3]

           Oleh karena itu sebagai generasi penerus harus mempunyai rasa kebanggaan terhadap warisan yang berupa tutur kata dan sikap maupun perilaku dengan mempertahankan identitas sunda. Pada dasarnya orang sunda sudah memiliki bekal untuk menjalani kehidupan dan tantangan zaman, tanpa menghilangkan kearifan lokalnya. Kepekaan terhadap kondisi generasi alpha saat ini, diperlukan untuk membangun kesadaran dalam melestarikan, menjaga, serta melindungi apa yang sudah menjadi warisan berharga orang sunda, agar eksistensi masyarakat sunda tidak punah termakan oleh zaman.

 

DAFTAR PUSTAKA 

[1] Alvin Saputra. “Mari Mengenal Lebih Jauh Generasi Alpha dan Cirinya” https://aido.id/health-articles/mari-mengenal-lebih-jauh-generasi-alpha-dan-cirinya/detail.  [27 Juni 2022]

[2] Hendi Anwar, dkk. “Rumah Etnik Sunda” https://books.google.co.id/books? hl=id&lr=&id=qBq9BgAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP2&dq=rumah+etnik+sunda+hendi+anwar&ots=8hLLGlh6YE&sig=pw-y3HQJimz_Ym_e4HeTRxlgvoA&redir esc=y#v=onepage&q&f=falsem. [Februari 2013] Jakarta : Griya Kreasi.

[3] Rivan. “Dago Tea House, Kawasan Wisata Dago Sejak Kolonial Belanda” https://www.wisataidn.com/dago-tea-house/ [ Maret 2022]