Perjalanan seni tari tradisi mengalami berbagai tahapan perubahan dari masa ke masa. Setiap perubahan yang terjadi memiliki ciri tersendiri terkait langsung dengan masanya, bahkan sekarang tampak terjadinya akulturasi dalam seni tari tradisi. Akibat adanya interaksi kelompok masyarakat tertentu, yang umumnya akan terjadi akulturasi kebudayaan pada masyarakatnya.
Akulturasi kebudayaan merupakan perpaduan antara dua kebudayaan atau lebih yang berbeda. Hal ini terjadi akibat adanya interaksi antara kelompok masyarakat yang mempunyai kebudayaan tertentu dengan kelompok masyarakat lainnya. Proses akulturasi tidak menyebabkan hilangnya unsur-unsur kebudayaan dari dua atau lebih kelompok masyarakat tadi. Kebudayaan asli masih bisa dilihat ciri-cirinya, serta dapat dibedakan dan dianalisis jika dibandingkan dengan kebudayaan dari luar. [1] Seorang antropolog William Hafiland mengatakan, bahwa dalam akulturasi terjadi kebudayaan mengalami perubahan besar. Perubahan ini muncul saat antar budaya berbeda saling melakukan kontak dalam waktu lama. (Jurnal Ilmu Dakwah Volume 35 Nomor 2, 2015; Ilham Choirul Anwar, 2021) [2]
Seiring berjalannya waktu dalam seni tari tradisi dan seni tari modern, kedua tarian tersebut sekarang ini bisa dipadukan yang disebut tari kontemporer. Tari kontemporer sangat erat kaitannya dengan pola gerakan tari yang unik serta bersifat simbolik. Tidak hanya itu, irama musik juga tergolong unik, mulai dari penggunaan irama musik yang sederhana hingga irama musik digital. (Arina Restian, 2019) [3]
Tari Modern berasal dari perkembangan nyata seni tarian di dunia, yang mengalami serangkaian perubahan dan peralihan fungsi pada hampir semua aspek elemen didalamnya. Dalam buku yang berjudul “The Living Stage : a Story of the World Theater”, dia menyebutkan bahwa tari modern adalah tari yang dipengaruhi oleh emosi atau rasa, sebagaimana ciri kodrati emosi manusia yang memiliki desakan untuk ingin bebas, maka jenis tari ini lebih mengarah untuk bebas dari tradisi. (Kenneth Macgowan, 1955; Muhsy Maghribi, 2021) [4] Sedangkan perbedaan dengan tari Tradisional menyangkut segala unsur inti dari masing-masing, mulai dari gerakan, kostum, musik hingga pemaknaan yang dibawakan. Selain itu, tujuan umum dari tarian masa kini hanya sebatas hiburan dan mencari popularitas semata dengan skill melalui dimiliki penari.
Tari kontemporer merupakan inovasi dari berbagai macam tarian yang mendapatkan sentuhan modernisasi. Inovasi yang lazim dilakukan pada jenis tari ini terdapat pada musik pengiring, gerakan, dan properti yang digunakan oleh para penari. Ada pula yang berpendapat bahwa tari kontemporer merupakan tarian yang dipadukan dari berbagai jenis tarian terutama tarian tradisional dan tarian modern. [5]
https://drive.google.com/file/d/1OragV95tEwGjjWo8tkjNz3bG8mJ3ohL1/view?usp=sharing
Inovasi Tari Kontemporer
Selanjutnya tari kontemporer yang memiliki ciri-ciri, yaitu :
- Ekspresi yang dimunculkan adalah ekspresi pribadi bukan ekspresi komunitas tertentu atau etnik tertentu, dan tidak bersifatkan kolektif.
- Sumber garapan gerak boleh bebas, namun sesuai dengan tema tari apakah bersumber dari tari tradisi atau pencaharian di studio tari.
- Pola iramanya baik musik dan gerak tidak selalu bersifat ritmis dan melodis, malah sering lepas dari melodis dan ritmis.
- Naskah atau konsep cerita yang diungkapkan melalui karya tari tersebut mesti yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan yang kekinian.
- Durasi atau waktu pertunjukan apabila diulang selalu tidak konstan, begitu juga ekspresi penari, bentuk gerak dan tekanan atau aksennya pun tidak konstan.
- Sulit untuk mengulangi pertunjukannya agar persis sama, dan tidak dapat dipertahankan keberadaanya dalam waktu yang lama. (Indrayuda, 2010) [6]
Dengan demikian, tenggelamnya seni tari tradisi dapat dikarenakan kurangnya beradapatasi dengan zaman. Maka dari itu agar seni tari bisa diterima oleh kaum milenial harus adanya perubahan yang berkolaborasi dengan tari modern. Meskipun adanya perubahan tetapi tetap tidak menghilangkan unsur kebudayaan masyarakat kelompoknya.
Persepsi masyarakat terhadap masuknya budaya asing juga mempengaruhi kecepatan akulturasi budaya. Akulturasi budaya seringkali membutuhkan waktu lama untuk diterima. Namun jika akulturasi sudah dapat diterima masyarakat, maka proses akulturasi tersebut cenderung berlangsung sangat cepat. Dari beberapa pembahasan di atas tentu dapat kita simpulkan bahwa kemunculan seni tari kontemporer ini menjadi warna baru didalam dunia kesenian khususnya seni tari. Munculnya tarian kontemporer ini juga bisa membuktikan bahwa para seniman senantiasa melakukan usaha dalam mengembangkan hasil keseniannya terutama para seniman tari.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kiki Faqiha “Akulturasi Adalah Percampuran Budaya, Ketahui Pengertian dan Contohnya” https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5547963/akulturasi-adalah-percampuran-budaya-ketahui-pengertian-dan-contohnya [27 April 2021]. Diakses [20 Desember 2021]
[2] Nurhuda Widiana “ Jurnal Ilmu Dakwah Volume 35 Nomor 2 (2015) Akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam Tradisi “Nyumpet” di Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ”; Ilham Choirul Anwar [23 Agustus 2021] https://tirto.id/arti-akulturasi-menurut-sosiolog-koentjaraningrat-hingga-lauer-gijK Diakses [25 Desember 2021]
[3] Arina Restian “Buku Pembelajaran Seni Tari di Indonesia dan Mancanegara, Malang” Maret 2017. Universitas Muhammadiyah Malang [14 Agustus 2019]
[4] Kenneth Macgowan “The Living Stage: A story of The World Theater”, Penerbit Prentice-Hall 1955;Muhsy Maghribi Tari Modern: Pengertian, Sejarah, Fungsi, Jenis, Contoh [5 Oktober 2021]. https://adahobi.com/tari-modern/ Diakses [22 Desember 2021]
[5] Ahmad Ghani “TARI MODERN : Pengertian, Sejarah, Ciri dan Contoh. [ 23 July 2021 ] https://pelajarindo.com/tari-modern/ Diakses [23 Desember 2021]
[6] Fidelis Dhayu Nareswari “ Perbedaan Tari Modern dan Tari Tradisional” https://www.kompas.com/skola/read/2020/11/26/214500569/perbedaan-tari-modern-dan-tari-tradisional?page=all [26 November 2020] Diakses [23 Desember 2021]
Bagikan melalui