Cetak | Download PDF

Kolaborasi Grafiti dan Fashion

Resky Juliantara | Senin, 17 Januari 2022 | 00:00 WIB

foto

Perkembangan seni lukis di Indonesia yang awal mula adalah kebudayaan Austronesia yang datang sekitar 5000 abad yang lalu. Bukti peninggalan seni rupa bangsa Austronesia adalah lukisan gua yang ditemukan pada beberapa situs di Papua, bagian barat Danau Sentani, Sulawesi Selatan, dan Maluku. (Dyastiningrum, 2009 : 11) [1] Seni lukis merupakan salahsatu induk dari seni rupa sebagai bagian dari pengembangan yang lebih utuh dari gambar. Sementara seni rupa merupakan cabang seni yang bisa ditangkap oleh mata dan dirasakan melalui rabaan. Sebagian besar nilai keindahan pada karya seni rupa mengandalkan kekuatan visual. Maka timbulah salahsatu cabang seni rupa modern yaitu graffiti.

Graffiti pada dasarnya berasal dari bahasa latin, graphium (menulis). Awal mula graffiti ini dikenal setelah dipakai oleh para arkeolog untuk mendefinisikan suatu bentuk tulisan dibangunan kuno bangsa Romawi dan Mesir. Graffiti sangat mudah kita temukan di Indonesia, terutama pada setiap sudut jalan kota-kota besar. Bahkan untuk di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta seni lukis graffiti diberdayakan guna mendukung keindahan dan juga menjadi wahana wisata bagi para generasi muda. [2]

Sayangnya beberapa aksi kegiatan graffiti ini sering kali disalah gunakan oleh beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga membuat beberapa masyarakat menjadi resah akan aksi kegiatan graffiti yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Pada akhirnya kegiatan graffiti ini dibatasi oleh aparat dan beberapa masyarakat setempat, karena aksinya termasuk kedalam  vandalisme yang bisa menimbulkan pengotoran lingkungan, bahaya, kerugian atau kesusahan.

Beberapa seniman graffiti ini awalnya putus asa, karena kegiatan atau hobi mereka menjadi terbatas. Maka dari itu munculah ide dari para seniman ini untuk mencari atau mengganti objek, yang biasanya para seniman ini menggambar di dinding, di rolling door mini market, di rumah yang sudah terbengkalai, diganti menjadi fashion yang trending dan kekinian pada era modern ini, seperti menggambar untuk fashion anak remaja pada sepatu, jaket yang berbahan levis, helm, dan yang lainnya.

Fashion merupakan suatu lambang dari terjadinya fase perubahan budaya dalam suatu kelompok. Selain itu, fashion juga bisa menjadi ukuran untuk menentukan status sosial dan lain sebagainya. Pada awal tahun 1000 Masehi, fashion di Eropa bergaya klasik dengan ciri khas seperti baju berukuran besar. Hal ini tidak terlepas dari adat dan budaya Eropa pada masa itu, yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Sedangkan pada zaman modern sekarang ini, nyaris setiap bangsa dan negara seperti sedang berlomba-lomba menciptakan trend-nya masing-masing. Umumnya setiap negara memiliki ciri khas, presepsi dan pandangan yang berbeda mengenai fashion, sehingga perkembangan desain fashion juga menjadi tidak terbatas. [3]

Aspek fashion semakin menyentuh kehidupan sehari-hari setiap orang. Fashion mempengaruhi apa yang kita kenakan, kita makan, bagaimana kita hidup, dan bagaimana kita memandang diri sendiri. Fashion juga memicu pasar dunia untuk terus berkembang, produsen untuk berproduksi, pemasar untuk menjual dan konsumen untuk membeli. Cara berpakaian yang mengikuti fashion juga memperlihatkan kepribadian dan idealisme kita. [4] Sedangkan karya seni graffiti identik dengan sebuah coretan di tembok, di jalan raya, di rumah yang sudah tidak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya pun tidak hanya menyajikan sebuah gambar yang indah secara estetik, terkadang ada beberapa pesan yang menggelitik. Graffiti adalah coretan dalam berbagai bentuk seperti kata, simbol dan lain sebagainya. [5]

Fungsi dari sebuah graffiti itu biasanya mengandung kritik yang menggelitik serta sering kali terdapat beberapa pesan rahasia yang hanya diketahui oleh kelompok tertentu, dan bisa juga menjadi sarana ekspresi atas ketidak puasan terhadap keadaan sosial, dan juga sarana ekspresi ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial. Oleh karena para seniman tidak ingin bakatnya sia-sia, maka mulailah mereka mengembangkan atau mengasah beberapa keahliannya untuk bisa menggambar di objek yang anti mainstream, bukan di kanvas ataupun di kertas tetapi di aksesoris sehari-hari yang biasa digunakan para remaja pada era modern ini. Mau tidak mau para seniman tersebut harus beradaptasi pada era yang modern ini, karena menggambar di sebuah objek yang anti mainstream ini membutuhkan keahlian yang sangat khusus.

https://drive.google.com/file/d/1KxKBCQLIGqfigtE16EzplWmea8y4wHRG/view?usp=sharing 

Graffiti dalam Produk Fashion

Sumber : https://lifestyle.okezone.com/read/2016/12/13/194/1565314/bosan-dengan-jaket-jins-lama-trik-jaket-lukis-patut-dicoba

Fashion sekarang ini adalah bisnis yang cukup besar dan menguntungkan, seperti dikatakan oleh Jacky Mussry sebagai kepala divisi consulting dan research MarkPlus. Co, bahwa gejala beramai-ramainya produk mengarah ke fashion muncul tatkala konsumen makin ingin diakui jati diri sebagai suatu pribadi. Maka dari itu para seniman mengambil sebuah kesempatan yang dimana kegiatan tersebut bisa disalurkan atau bisa dibilang beriringan dengan fashion era modern ini. [4]

Disaat para seniman sudah tidak bisa melukis di dinding, di rumah tua dan yang lainnya, tetapi dengan kolaborasi graffiti dan fashion yang ternyata para seniman ini bisa menyalurkan hobi atau keahliannya yaitu melukis di objek yang anti mainstream. Siapa sangka bahwa keahliannya tersebut juga bisa dijadikan bisnis, contoh : saat seorang seniman melukis pada jaket levis, ternyata bisa membuat para kalangan remaja tertarik bahkan ada pula beberapa remaja yang ingin mempelajari hal tersebut. Dengan demikian, ternyata Graffiti disini bukanlah sebuah aksi yang mengandung unsur vandalisme. Ketika kelompok graffiti ini bisa beradaptasi dengan kondisi atau kemajuan zaman pada era modern ini, ternyata graffiti bisa berkembang dan malah bisa dijadikan bisnis oleh beberapa kelompok atau komunitas yang memiliki keahlian melukis tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[1]   Dyastiningrum, “Antropologi Kelas XI : untuk SMA dan MA Program Bahasa” Jakarta Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2009.

[2]   Agniya Khori, “Jejak Perkembangan Seni Graffiti di Indonesia”

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20161027190334-241-168507/jejak-perkembangan-seni-graffiti-di-indonesia [Kamis, 27 Oktober 2016 Jakarta] [diakses : 10 Januari 2022]

[3] “Pengertian Fashion : Stylist, Secara Umum dan Menurut Para Ahli” https://jagad.id/pengertian-fashion-stylist-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/ [diakses : 27 Desember 2021]

[4]   Savitrie Dian, “Pola Perilaku Pembelian Produk Fashion pada Konsumen Wanita (Sebuah Studi Kualitatif pada Mahasiswa FE UI dan Pengunjung Butik Nyla)” Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (2008).

[5]   Depdiknas, “Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kelima”, 2017.